Hafez, Bashar al-Assad Putra Kedua Dari Mantan Presiden Suriah Hafez al-Assad

Sebagai penerus ayahnya, Hafez, Bashar al-Assad melanjutkan pemerintahan brutal ayahnya di Suriah. Lahir pada 11 September 1965, Bashar al-Assad tidak berniat memasuki kehidupan politik, apalagi menjadi presiden Suriah.

Tetapi kematian yang tragis dan seorang ayah yang penuh perhitungan memastikan bahwa dia akan melakukannya. Meskipun menjanjikan untuk menjadi sosok transformasional yang akan mendorong Suriah ke abad ke-21, al-Assad malah mengikuti jejak ayahnya, yang mengarah pada tuntutan reformasi dan peluncuran perang saudara yang mematikan.

Lahir pada 11 September 1965, Bashar Hafez al-Assad adalah putra kedua dari mantan Presiden Suriah Hafez al-Assad, dan istrinya, Anisa. Hafez telah naik ke tampuk kekuasaan melalui militer Suriah dan partai politik minoritas Alawi untuk menguasai Suriah pada tahun 1970.

Dengan sebagian besar militer yang terdiri dari rekan-rekan Alawi, ia mampu mengintegrasikan militer ke dalam rezim politiknya, dan memerintah Suriah dengan tangan besi selama tiga dekade.

Bashar tumbuh pendiam dan pendiam, di bawah bayang-bayang saudaranya yang lebih dinamis online game dan ramah, Bassel. Dididik di Sekolah Arab-Prancis al Hurriya di Damaskus, Bashar belajar berbicara bahasa Inggris dan Prancis dengan lancar.

Ia lulus dari sekolah menengah atas pada tahun 1982, dan melanjutkan studi kedokteran di Universitas Damaskus, lulus pada tahun 1988.

Ia melakukan residensi di bidang oftalmologi di rumah sakit militer Tishreen di luar Damaskus, dan kemudian melakukan perjalanan ke Rumah Sakit Mata Barat di London, Inggris pada tahun 1992.

Saat ini, Bashar menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedokteran, dan tidak berniat memasuki kehidupan politik. Ayahnya telah merawat Bassel sebagai presiden masa depan.

Tetapi pada tahun 1994, Bassel tewas dalam kecelakaan mobil, dan Bashar dipanggil kembali ke Damaskus. Hidupnya akan segera berubah secara radikal, karena ayahnya dengan cepat dan diam-diam bergerak agar Bashar menggantikannya sebagai presiden.

Bashar memasuki akademi militer di Homs, yang terletak di utara Damaskus, dan dengan cepat didorong untuk menjadi kolonel hanya dalam waktu lima tahun.

Selama waktu ini, ia menjabat sebagai penasihat ayahnya, mendengarkan keluhan dan permohonan dari warga, dan memimpin kampanye melawan korupsi. Alhasil, ia mampu menyingkirkan banyak saingan potensial.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Powered by WordPress | Theme Designed by: Bank bca Bank bni Bank bri Bank btn Bank cimbniaga Bank citibank Bank danamon Bank mandiri Bank ocbc bank Panin facebook google instagram maybank paypall telkom tiktok twitter WA youtube